
Pada Selasa pagi, para trader tampak berhati-hati namun optimistis seiring makin kecilnya peluang Fed menaikkan suku bunga. Sentimen juga sedikit terdorong oleh harapan bahwa China akan mengambil langkah lebih lanjut untuk mengatasi masalah di sektor properti, sementara bank-bank sentral utama lainnya tak lagi bersikukuh mempertahankan kebijakan restriktif seperti sebelumnya.
Namun, ketidakpastian ekonomi di luar AS mendorong pelaku pasar beralih ke obligasi Treasury AS dan emas, sementara dolar AS turun ke level terendah dalam tiga bulan menjelang risalah rapat penting Fed. Selain itu, minyak mentah mengakhiri tren kenaikan selama tiga hari karena pasar energi kembali menilai sinyal sebelumnya tentang kelangkaan pasokan di tengah kesulitan ekonomi.
Di pasar mata uang, USDJPY mencatat penurunan terbesar di antara pasangan mata uang G10, sementara USDCAD tampak paling sedikit terdampak oleh harga minyak mentah yang melemah. Selain itu, EURUSD dan GBPUSD menguat tipis, sedangkan AUDUSD kesulitan menguat untuk mengimbangi nada hawkish Gubernur RBA di tengah sinyal beragam dari risalah rapat RBA.
Di sisi lain, BTCUSD dan ETHUSD sama-sama mencatat penurunan tipis seiring pasar kripto kembali menghadapi hambatan dari SEC AS, sementara kekhawatiran tentang biaya transaksi meningkat.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Indeks Dolar AS (DXY) turun selama tiga hari berturut-turut dan menyentuh level terendah sejak akhir Agustus. Indeks yang mengukur nilai Dolar AS terhadap enam mata uang utama ini terbebani oleh beragam kekhawatiran terkait Fed serta imbal hasil obligasi Treasury yang melemah. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun berbalik turun setelah mengalami kenaikan korektif pada Jumat dari level terendah dalam dua bulan, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun kembali ke level akhir September.
Perlu dicatat bahwa pernyataan terbaru dari Fed dan data AS tidak mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral AS, sehingga menekan Dolar AS meskipun optimisme ekonomi di Washington meningkat. Kesiapan China untuk memberikan stimulus tambahan juga memperkuat potensi kenaikan XAUUSD, tetapi kekhawatiran akan semakin memburuknya kondisi sektor properti China menguji para pembeli emas. Selain itu, kesulitan ekonomi India belakangan ini dan kabar mengenai perubahan kebijakan Reserve Bank of India (RBI) juga membatasi kenaikan logam mulia tersebut. Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa India dan China merupakan dua konsumen emas terbesar di dunia.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan di CNBC bahwa AS dan China menyadari adanya peluang untuk bekerja sama. Pejabat pembuat kebijakan itu juga mengkritik suku bunga yang lebih tinggi dengan mengatakan, “Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi memang menimbulkan tantangan tambahan dalam mengurangi utang.” Selain itu, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan bahwa inflasi tampaknya mulai stabil, tetapi tugas belum selesai.
Dalam perkembangan lain, Bea Cukai China mengindikasikan penurunan ekspor ponsel pintar selama periode Januari hingga Oktober, di tengah melemahnya permintaan global dan relokasi produksi. Selain itu, kabar bahwa otoritas China sedang menyiapkan daftar pendanaan bagi pengembang properti di tengah meningkatnya risiko gagal bayar membebani sentimen di Asia.
Terkait para bankir sentral, anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB), Francois Villeroy de Galhau, menyatakan bahwa resesi seharusnya dapat dihindari dan mereka mampu melakukannya. Ia menambahkan bahwa skenario soft landing lebih mungkin terjadi. Senada dengan itu, para pembuat kebijakan di Inggris juga mengisyaratkan adanya kesulitan ekonomi dan tantangan bagi Bank of England (BoE) untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, sementara penurunan suku bunga masih jauh dari kemungkinan. Selain itu, Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA), Guy Bullock, memberikan pernyataan sebelumnya hari ini setelah risalah kebijakan moneter terbaru RBA dirilis. Ia mengatakan, “Australia tidak mencatat pertumbuhan produktivitas selama beberapa tahun.” Bullock juga menambahkan bahwa RBA semakin optimistis terhadap pasar tenaga kerja.
Ke depan, sejumlah pejabat bank sentral dari Inggris, Eropa, dan Inggris diperkirakan akan membuat para trader sibuk pada Selasa, bersama dengan data inflasi Kanada. Namun, perhatian utama akan tertuju pada risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve AS (Fed) untuk memastikan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir. Jika risalah FOMC menyebutkan tekanan inflasi yang mereda, dampak negatif suku bunga yang lebih tinggi, serta soft landing di AS, Dolar AS berpotensi melanjutkan pelemahannya.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!