
Pada Senin, Dolar AS (USD) bergerak konsolidatif setelah turun tajam pada Jumat akibat pidato bernada hati-hati dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Jackson Hole. Penguatan Dolar AS didukung oleh data AS yang beragam, sementara para trader menilai kembali kemungkinan pemangkasan suku bunga Fed setelah September. Komentar Powell tentang keputusan yang bergantung pada data menimbulkan keraguan akan adanya pemangkasan lebih lanjut, sehingga membantu USD bertahan. Selain itu, komentar Presiden AS Donald Trump turut memengaruhi sentimen pasar dan mendorong pemulihan Dolar AS.
Namun, pemecatan Gubernur Fed Lisa Cook oleh Trump atas dugaan penipuan hipotek memicu reaksi politik dan menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi Fed. Hal ini semakin melemahkan USD. Trump juga menjadi sorotan setelah mengubah sikapnya terhadap Ukraina. Ia mengatakan AS tidak akan lagi mengeluarkan uang untuk Ukraina dan akan berfokus pada NATO. Ia juga menyatakan keinginannya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menyebut bahwa Putin menolak bertemu dengan Zelensky karena permusuhan pribadi.
Trump juga mengomentari situasi di Gaza. Ia mengatakan bahwa situasi tersebut akan segera diselesaikan, tanpa Hamas, dalam 2–3 pekan ke depan. Ia mengkritik pajak digital Uni Eropa dan menyampaikan kekhawatiran terkait tarif dan sanksi visa. Trump menyebut bahwa Presiden Tiongkok Xi telah mengundangnya untuk berkunjung, tetapi memperingatkan bahwa tarif 200% terhadap Tiongkok mungkin diberlakukan jika negara itu tidak memenuhi tuntutan AS.
Di bidang ekonomi, Trump memuji upayanya untuk mengakuisisi 10% saham Intel, dengan menyebut pendanaan pemerintah dari CHIPS Act. Pejabat Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan bahwa pemerintah mungkin akan berinvestasi di lebih banyak perusahaan. Sementara itu, ketegangan politik di Prancis meningkat setelah PM menyerukan pemungutan suara kepercayaan terkait pemangkasan anggaran.
Dalam data ekonomi, PPI jasa Jepang melandai, sementara Inggris mencatat kenaikan harga toko tertinggi sejak Maret 2024, sehingga memicu kekhawatiran inflasi. Risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) menunjukkan sikap yang kurang hawkish daripada perkiraan.
Di tengah kondisi ini, Indeks Dolar AS (DXY) melemah setelah mengawali perdagangan dengan kuat, sementara emas mencapai level tertinggi dalam dua pekan. Minyak mentah menghentikan tren kenaikan selama empat hari di level tertinggi dalam dua pekan, saat trader menantikan data persediaan minyak mentah API AS. EURUSD berbalik melemah setelah kenaikan pada Jumat, tetapi pulih pada awal Selasa. GBPUSD bergerak datar setelah melemah pada Senin, sementara USDJPY kesulitan bergerak akibat data Jepang yang beragam. AUDUSD dan NZDUSD turun, sedangkan USDCAD bergerak tanpa arah yang jelas karena koreksi harga minyak mentah membebani dolar Kanada.
Saham ditutup melemah dan cryptocurrency turun tajam sebelum sedikit pulih pada Selasa, sementara pasar bergerak konsolidatif menjelang rilis data penting serta berita geopolitik dan perdagangan yang beragam.
Meski Dolar AS terkoreksi, mata uang utama kesulitan memulihkan kerugian pada Senin akibat beragam faktor. Di Eropa, kekhawatiran akan potensi runtuhnya pemerintahan Prancis jika mosi kepercayaan gagal pada 8 September, ancaman tarif baru Trump terhadap Uni Eropa, serta data sentimen IFO Jerman untuk Agustus yang lemah menekan EURUSD.
Di Inggris, GBP/USD tidak mampu memanfaatkan indeks harga toko yang mencapai level tertinggi sejak Maret 2004, menyusul data inflasi yang kuat pekan lalu. Gubernur Bank of England menyoroti kekhawatiran terkait ketenagakerjaan dan pertumbuhan, sehingga memunculkan keraguan mengenai pemangkasan suku bunga. Hal ini membuat GBPUSD berada dalam posisi sulit setelah anjlok tajam pada Senin dan menghapus kenaikan pada Jumat.
Sementara itu, USDJPY kesulitan mempertahankan daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah beragam kekhawatiran terkait Bank of Japan dan lemahnya PPI Jasa Jepang pada Juli. Selain itu, kekhawatiran akan meningkatnya pengangguran dan pertumbuhan yang stagnan di Jepang menambah tekanan terhadap Yen.
AUDUSD dan NZDUSD terus turun selama dua hari berturut-turut, mencerminkan sensitivitasnya terhadap risiko. Dolar Australia menghadapi tekanan tambahan akibat risalah Reserve Bank of Australia yang tidak terlalu hawkish serta kekhawatiran atas situasi perdagangan dan politik China. Dolar Selandia Baru juga terbebani oleh faktor-faktor tersebut.
USDCAD, setelah naik pada Senin, masih bergerak tanpa arah yang jelas. Pergerakannya dipengaruhi oleh turunnya harga minyak mentah, kekhawatiran akan konflik perdagangan antara AS dan Kanada, serta sikap dovish Bank of Canada. Kondisi ini menyulitkan trader, terutama dengan kalender ekonomi yang relatif sepi ke depan.
Minyak mentah WTI mencatat penurunan intraday tipis—yang pertama dalam lima hari—meski berada di level tertinggi dalam dua minggu, seiring para trader bersiap menghadapi data persediaan mingguan AS dari API. Berita yang beragam seputar Rusia dan Gaza juga dapat menguji minat beli minyak mentah, begitu pula kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan dan politik terbaru Trump dapat menekan permintaan energi, meski dampaknya mungkin belum dirasakan OPEC pada 2025. Selain itu, peningkatan pasokan OPEC+ dan harapan bahwa sanksi terhadap Rusia akan segera dicabut jika kesepakatan Ukraina tercapai juga dapat menguji minat beli minyak.



Harga emas naik ke level tertinggi dalam dua pekan dan menguji resistance yang terbentuk sebulan lalu, seiring trader beralih ke aset safe haven di tengah ketidakpastian terkait perdagangan dan politik. Pelemahan Dolar AS serta kabar bahwa China, salah satu konsumen emas utama, akan meluncurkan stimulus dan kesepakatan perdagangan turut meningkatkan optimisme pembeli emas.
Sementara itu, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) anjlok tajam pada hari Senin akibat kekhawatiran terhadap kinerja Dolar AS dan penurunan permintaan institusional setelah berbulan-bulan mencatat arus masuk yang kuat. BTC menyentuh level terendah dalam tujuh pekan, sementara ETH mencatat penurunan harian terbesar sejak 10 April, sebelum kembali menguat pada hari Selasa.
Ke depan, data ekonomi penting, termasuk Pesanan Barang Tahan Lama AS, Indeks Keyakinan Konsumen, dan Richmond Fed Manufacturing Index, akan membentuk prospek pasar hari Selasa, bersama pidato Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem. Namun, perhatian akan tetap tertuju pada respons Fed terhadap pemecatan Lisa Cook oleh Trump dan ketegangan geopolitik yang terus berlangsung terkait Ukraina, tarif, dan Gaza. Selain itu, data persediaan minyak mentah API AS akan menjadi sorotan setelah persediaan turun 2,4 juta barel pekan lalu.
Selera risiko kemungkinan akan tetap lemah di tengah ketidakpastian ini. Data AS yang kuat dapat memperbesar keraguan terhadap pemangkasan suku bunga Fed di masa mendatang, sehingga berpotensi menguatkan Dolar AS dan menekan komoditas seperti minyak mentah, saham, dan mata uang kripto. Namun, emas mungkin melanjutkan momentum kenaikannya jika berhasil menembus dan bertahan di atas level resistance $3.385, sehingga berpotensi menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan dari volatilitas pasar.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!