Strategi Turtle Trading memperkenalkan taktik trading terkenal yang dikembangkan oleh Richard Dennis pada 1980-an. Gagasan utamanya adalah membantu trader memanfaatkan momentum yang berkelanjutan. Keunggulan utamanya adalah strategi Turtle Trading dapat disesuaikan dengan berbagai jenis pasar keuangan dan digunakan saat trading beragam instrumen.

Konsep ini bertujuan mengidentifikasi breakout ke atas dan ke bawah. Pendiri strategi ini ingin mengembangkan mekanisme yang memungkinkan trader menggunakan aturan tertentu alih-alih mengandalkan perasaan dan emosi. Dennis mengadakan sebuah eksperimen dan mengajak sekelompok orang untuk trading dengan mengikuti aturan tersebut. Jika berhasil, mereka akan mendapatkan $1 juta. Begitulah kisah sistem Turtle Trading bermula.
Seperti yang sudah Anda pahami dari paragraf pengantar, Turtle Trading adalah jenis strategi mengikuti tren. Taktik aslinya mencakup pembelian futures saat terjadi breakout pada level tertinggi 20 hari dan penjualan saat mencapai level terendah 20 hari. Tentu saja, konsep ini juga mencakup aturan lain yang perlu dipertimbangkan, serta detail khusus yang akan membentuk strategi sesuai kondisi pasar.



Untuk memaksimalkan strategi Turtle Trading, Anda perlu memahami aturan dasarnya. Ada enam poin utama yang perlu dipertimbangkan trader saat menyusun teknik mengikuti tren yang efektif:
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi jenis pasar yang akan ditradingkan. Turtle Trading cocok untuk pasar dengan volatilitas tinggi. Artinya, strategi ini dapat membantu saat trading:
Penentuan ukuran posisi adalah algoritma inti dalam strategi Turtle Trading. Tujuannya adalah memastikan semua posisi memiliki ukuran yang sama, apa pun jenis pasar yang ditradingkan. Selain itu, cara ini membantu meningkatkan diversifikasi. Di pasar dengan likuiditas tinggi, trader dapat mengambil posisi dengan jumlah kontrak yang lebih sedikit, begitu pula sebaliknya. Sistem ini menggunakan berbagai metode untuk mengukur volatilitas dan menggunakan rata-rata bergerak eksponensial 2 hari.
Karena ada dua jenis breakout, yaitu ke atas dan ke bawah, trader dapat menggunakan dua taktik entry pasar yang berbeda. Agar sesederhana mungkin, trader memilih breakout 20 hari, baik pada level tertinggi maupun terendah. Selain itu, para Turtle diharapkan menggunakan semua sinyal. Jika satu saja terlewat, mereka bisa kehilangan peluang trading yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar. Hal ini tidak hanya akan menurunkan total return, tetapi juga merusak algoritma trading yang menggunakan breakout 55 hari dan posisi yang menguntungkan dengan hingga 4 entry pasar.
Dennis mengajarkan para Turtle untuk memasang stop loss sebanyak mungkin. Itulah satu-satunya cara untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Intinya adalah menilai risiko sebelum memasuki pasar atau membuka posisi trading. Semakin tinggi volatilitas pasar, semakin lebar stop loss yang perlu dipasang trader.
Diperlukan keterampilan tinggi untuk menentukan waktu terbaik menutup posisi trading. Menutupnya terlalu cepat akan mengurangi peluang Anda untuk meraih keuntungan besar. Banyak trader pengikut tren melakukan kesalahan umum ini. Strategi trading Turtle melibatkan banyak transaksi dengan keuntungan kecil. Di satu sisi, ini dapat berarti kerugian yang lebih kecil. Di sisi lain, strategi ini memiliki aturan exit 10 hari jika terjadi breakout ke bawah pada posisi long. Jadi, idenya adalah memantau harga real-time, bukan menggunakan order exit tertinggi.
Pendiri strategi trading Turtle mengajarkan para muridnya untuk menggunakan taktik tambahan, seperti memasang limit order atau menghadapi berbagai jenis pasar yang umumnya bergerak sangat cepat. Dennis menjelaskan betapa pentingnya menunggu dengan sabar sebelum tiba waktunya memasang order. Sekali lagi, trading Turtle membutuhkan disiplin serta kemampuan mengidentifikasi pasar yang paling kuat (untuk dibeli) dan paling lemah (untuk dijual).
Pertama, aturan trading Turtle dan eksperimennya memberikan banyak detail dan informasi berguna kepada trader berdasarkan pengalaman trader lain. Kedua, aturan ini menjelaskan berbagai aspek utama psikologi trading. Misalnya, sebagian trader gagal mengikuti aturan karena tidak sabar atau kurang disiplin. Sulit untuk membantah bahwa orang-orang sangat kesulitan mengikuti aturan, bahkan ketika aturan tersebut menjanjikan peluang trading besar.
Terakhir, trading Turtle merupakan seperangkat aturan yang telah teruji. Anda tidak perlu menemukan cara baru, meskipun beberapa penyesuaian kecil mungkin diperlukan agar strategi sesuai dengan kondisi dan tren pasar saat ini. Pada akhirnya, idenya tetap sama: mencegah kerugian, menghasilkan rasio risiko-imbalan yang tinggi, dan menutup posisi trading besar dengan keuntungan.
Materi ini tidak memuat dan tidak boleh ditafsirkan sebagai memuat nasihat investasi, rekomendasi investasi, penawaran atau ajakan untuk melakukan transaksi apa pun dalam instrumen keuangan. Sebelum mengambil keputusan investasi, Anda sebaiknya meminta saran dari penasihat keuangan independen untuk memastikan bahwa Anda memahami risikonya.