
Pelaku pasar mengonsolidasikan pergerakan sebelumnya yang menekan aset-aset berisiko, saat pekan penting bagi bank sentral dimulai dengan data China yang menggembirakan. Dalam kondisi ini, para trader memberi kesempatan kepada penjual emas dan EURUSD untuk mengambil jeda, sementara pembeli minyak mentah tetap aktif di pasar. Selain itu, dolar AS kesulitan menentukan arah yang jelas meski berada di level tertinggi dalam sepekan, setelah mengakhiri tren turun selama tiga pekan, sementara para trader bersiap menyambut pengumuman kebijakan moneter Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu.
Meski demikian, AUDUSD dan NZDUSD berusaha pulih dari tekanan akibat hubungan dagang mereka dengan China, sementara USDJPY belum menunjukkan arah yang jelas meski mencatat kenaikan selama lima hari berturut-turut. Para trader tetap berhati-hati menjelang rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) pada Selasa. Sementara itu, USDCAD bergerak naik turun di level tertinggi dalam sepekan, meski harga minyak mentah—komoditas ekspor utama Kanada—yang menguat belum cukup menjelaskan pergerakan tersebut.
Terkait aset kripto, likuidasi besar-besaran posisi long mendorong BTCUSD menuju kerugian mingguan pertamanya dalam tiga pekan, meski sempat mencetak rekor tertinggi baru. Belakangan, BTCUSD memantul dari level terendah dalam sepekan. ETHUSD juga masih bergerak defensif setelah tren kenaikan selama enam pekan terhenti dan harganya mundur dari level tertinggi dalam beberapa tahun yang dicapai beberapa hari terakhir.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Dolar AS kesulitan mempertahankan kenaikan mingguan pertamanya dalam empat pekan, setelah mencatat kenaikan terbesar dalam dua bulan pada pekan lalu. Ini terjadi meskipun data AS yang berfokus pada konsumen mengindikasikan inflasi yang lebih kuat dan suku bunga The Fed perlu bertahan lebih tinggi sedikit lebih lama. Namun, data yang sama kembali menegaskan kekhawatiran pasar bahwa bank sentral AS baru akan memangkas suku bunga untuk pertama kalinya pada Juni, bukan Maret atau Mei, sekaligus turut memperkuat pembicaraan tentang soft landing di AS.
Di sisi lain, Menteri Keuangan China Lan Fo'an menyoroti perlunya kebijakan fiskal yang proaktif dan menguji optimisme terhadap transisi ekonomi China. Hal ini menantang pandangan bullish sebelumnya terhadap XAUUSD, mengingat China merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia. Namun, perlu dicatat bahwa data Produksi Industri dan Penjualan Ritel China yang lebih kuat menopang harga logam mulia tersebut di tengah awal pekan penting yang lesu.
Selain itu, terpilihnya kembali Presiden Rusia Vladimir Putin juga menantang sentimen pasar dan para pembeli XAUUSD, karena ia berjanji akan membela agenda perang Ukraina dengan senjata. Sejalan dengan itu, berita akhir pekan mengindikasikan bahwa Ukraina menyerang kilang minyak Sloviansk di wilayah Krasnodar, Rusia selatan.
Meski penguatan Dolar AS menghentikan kenaikan EURUSD, komentar hawkish dari para pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) menguji para penjual pasangan ini menjelang FOMC. Pada akhir pekan, anggota Dewan ECB Klaas Knot berbicara dan menepis kemungkinan terjadinya resesi di Zona Euro. Selain itu, Gubernur Bank Spanyol sekaligus pengambil kebijakan ECB, Pablo Hernández de Cos, bergabung dengan anggota Dewan Pemerintahan ECB, Gabriel Makhlouf, untuk mengisyaratkan bahwa bank sentral kawasan tersebut dapat mulai memangkas suku bunga pada Juni.
USDJPY menjadi sorotan utama di tengah ekspektasi bahwa Bank Sentral Jepang (BoJ) akan mengakhiri kebijakan suku bunga negatif (NIRP) dan kebijakan pengendalian kurva imbal hasil (YCC) dalam rapat kebijakan moneter pada Selasa. Meski kekhawatiran terhadap sikap hawkish BoJ menekan pasangan Yen, penguatan imbal hasil obligasi Treasury dan Dolar AS belakangan ini, ditambah dengan pembelian obligasi tak terjadwal oleh bank sentral Jepang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar, menantang para penjual USDJPY.
Sementara itu, GBPUSD masih berupaya pulih di level terendah dalam sepekan, sementara data Inggris yang beragam menguji para trader Pound menjelang rilis PMI Inggris, data penjualan ritel, dan rapat kebijakan moneter Bank of England (BoE) pekan ini.
Selain itu, NZDUSD naik paling tinggi di antara pasangan mata uang utama, sejalan dengan data Business PSI Selandia Baru (NZ) yang positif dan data China yang lebih kuat, meskipun Perdana Menteri Christopher Luxon menyampaikan bahwa kondisi ekonomi memburuk. AUDUSD juga terus naik menembus 0.6550, didukung oleh data positif dari mitra dagang terbesarnya, China, serta kecemasan menjelang pengumuman kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa.
Perlu dicatat bahwa kekhawatiran geopolitik yang berasal dari Rusia, ditambah data China yang positif dan konsolidasi dolar AS menjelang FOMC, menjaga optimisme pembeli minyak, terutama karena kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.
Meskipun data dan peristiwa penting diperkirakan akan mendorong momentum pasar mulai Selasa, minimnya katalis utama sepanjang sisa hari Senin dapat memberi kesempatan bagi para bull dolar AS untuk beristirahat sejenak. Meski demikian, keputusan kebijakan moneter dari BoJ, RBA, BoE, dan Fed, bersama dengan data Penjualan Ritel Inggris serta PMI dari negara-negara dengan ekonomi utama, akan menjadi perhatian para trader momentum. Namun, perhatian utama akan tertuju pada keputusan FOMC hari Rabu, karena para bear dolar AS menantikan konfirmasi pemangkasan suku bunga pada Juni dan/atau sinyal meredanya inflasi di AS. Jika proyeksi dot plot Fed dan konferensi pers Ketua Jerome Powell menunda pemangkasan suku bunga hingga menjelang akhir 2024, dolar AS berpotensi melanjutkan kenaikan pekan lalu.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!