
Sentimen trading belum menunjukkan arah yang jelas pada awal Rabu karena pelaku pasar menantikan dengan saksama rilis data/peristiwa utama pekan ini yang dijadwalkan hari ini, yaitu data inflasi AS untuk Maret dan risalah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) terbaru. Selain kecemasan menjelang rilis data, berita yang beragam seputar China dan minimnya katalis dari AS juga membatasi momentum.
Di tengah pergerakan ini, Indeks Dolar AS (DXY) mengakhiri penurunan selama dua hari sekaligus mempertahankan rebound hari sebelumnya dari EMA 50 hari. EURUSD tetap tertekan, sedangkan GBPUSD naik untuk hari ketiga berturut-turut meski belakangan momentum kenaikannya melemah. USDJPY juga mendapat minat beli dan berbalik dari kerugian hari sebelumnya. Sementara itu, USDCAD dan USDCHF tidak menunjukkan pergerakan signifikan, tetapi tetap tertekan.
Perlu dicatat, NZDUSD mencatat kenaikan intraday terbesar di antara pasangan mata uang G10 berkat jeda hawkish Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).
Di sisi lain, harga Emas bergerak naik mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat sehari sebelumnya, sementara harga minyak mentah berusaha pulih setelah jatuh paling dalam dalam lebih dari dua minggu pada hari sebelumnya.
BTCUSD dan ETHUSD sama-sama mencatat kenaikan tipis untuk mengurangi kerugian besar pada Selasa, di tengah beragam kabar tentang pasar kripto.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Pada hari Selasa, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menyampaikan ekspektasi bahwa disinflasi akan berlangsung lambat pada 2024. Ia menambahkan, “(Saya) tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa pemangkasan suku bunga akan ditunda lebih lama lagi.” Senada dengan itu, penasihat ekonomi Gedung Putih Lael Brainard juga menyebutkan tantangan inflasi, sembari melihat kemajuan yang konsisten dalam mengendalikan inflasi selama beberapa bulan mendatang.
Dengan demikian, bias hawkish The Fed semakin menguat dan membantu Dolar AS memulihkan diri, meski penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS pada Selasa belakangan ini menantang para pembeli greenback. Selain kekhawatiran terhadap The Fed, beragam berita utama seputar peristiwa berisiko utama juga membantu Dolar AS menguat secara bertahap.
Lembaga pemeringkat global Fitch menurunkan prospek China menjadi negatif, tetapi mempertahankan peringkat kreditnya di A+. Fitch juga menyatakan, “Kami tidak memperkirakan periode deflasi berkepanjangan, dengan inflasi sebesar 0,7% pada akhir 2024 dan 1,3% pada akhir 2025.”
Di sisi lain, Wall Street Journal (WSJ) merilis pembaruan yang menunjukkan kenaikan penjualan ritel mobil penumpang di China sebesar 53% secara bulanan dan 6,0% secara tahunan. WSJ juga menyebutkan bahwa permintaan konsumen meningkat setelah pulih dari Tahun Baru Imlek pada Februari.
Selain sinyal beragam dari China, kekhawatiran atas menguatnya hubungan China–Rusia belakangan ini serta dampak negatifnya terhadap geopolitik global juga menekan sentimen pasar. Kondisi ini pada gilirannya menopang Dolar AS menjelang rilis data inflasi penting AS dan risalah rapat The Fed.
Saat Dolar AS memangkas kerugian mingguan, EURUSD melanjutkan pelemahan dari level tertinggi dalam dua pekan yang terjadi pada hari sebelumnya. Pergerakan ini dipicu oleh ekspektasi dovish terhadap pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis. Sementara itu, GBPUSD bergerak naik dalam tren penguatan selama tiga hari, didukung oleh sinyal awal yang menggembirakan terkait penjualan ritel Inggris dan ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) akan memangkas suku bunga lebih cepat. Di sisi lain, USDJPY sedikit menguat ketika pembeli menguji garis resistance yang telah bertahan selama beberapa bulan di sekitar 152.00. Pergerakan ini terjadi di tengah beragam faktor yang memengaruhi langkah Bank of Japan (BoJ) selanjutnya serta pemulihan korektif imbal hasil obligasi Treasury. Bloomberg juga melaporkan bahwa hasil negosiasi upah terbaru meningkatkan kemungkinan BoJ menaikkan proyeksi inflasinya. Sementara itu, Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan bahwa kondisi keuangan yang akomodatif diperkirakan akan berlanjut untuk sementara waktu.
Perlu dicatat, NZDUSD mencatat kenaikan terbesar di antara pasangan mata uang G10 berkat jeda hawkish Reserve Bank of New Zealand (RBNZ). RBNZ mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan moneter hari ini. Namun, bank sentral tersebut juga menyatakan bahwa komite yakin mempertahankan OCR pada level restriktif untuk waktu yang cukup lama akan membawa inflasi harga konsumen kembali ke kisaran target 1% hingga 3% pada tahun kalender ini.
AUDUSD juga mengikuti pergerakan pasangan Kiwi, terutama di tengah optimisme pasar yang berhati-hati, sementara USDCAD dan USDCHF masih tertekan pada saat berita ini ditulis.
Emas kesulitan melanjutkan kenaikan terkininya meski mencatat kenaikan tipis di dekat level tertinggi sepanjang masa yang tercatat sehari sebelumnya. Rebound korektif Dolar AS, ditambah berita yang beragam tentang India dan China—dua konsumen emas terbesar di dunia—membebani pergerakan emas. Sementara itu, Minyak Mentah memangkas penurunan harian terbesarnya dalam lebih dari dua pekan, saat para pembeli energi menantikan data resmi persediaan mingguan AS setelah survei swasta menunjukkan kenaikan persediaan yang besar. Berita bahwa Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan permintaan minyak yang lebih rendah dan produksi yang lebih tinggi pada 2024 juga membebani para pembeli emas hitam.
Di pasar kripto, BTCUSD dan ETHUSD mencatat penurunan harian terbesar dalam lebih dari sepekan, di tengah volume trading yang terus menyusut menjelang halving Bitcoin dan beragam kekhawatiran terkait persetujuan ETF Ethereum.
Ke depan, data bulanan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Maret, keputusan kebijakan moneter Bank of Canada (BoC), serta risalah rapat kebijakan moneter terbaru Federal Reserve (The Fed) akan sangat penting untuk dicermati demi mendapatkan arah yang jelas.
Di antara data tersebut, CPI AS akan menjadi perhatian utama. Indikator inflasi AS sebelumnya mendukung pandangan The Fed yang mengisyaratkan penundaan pemangkasan suku bunga. Jika terkonfirmasi, hal ini dapat memungkinkan Dolar AS melanjutkan rebound terkininya. CPI diperkirakan naik kembali ke 3,4% YoY dari 3,2% sebelumnya, sementara CPI di luar Pangan & Energi, yang juga dikenal sebagai Core CPI, diperkirakan tidak banyak berubah, yakni 3,7% dibandingkan 3,8% sebelumnya.
Selain itu, Bank of Canada (BoC) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,0%. Namun, bias dovish para pembuat kebijakan dapat menekan Dolar Kanada (CAD), yang dapat ikut melemahkan harga minyak terkini dan mendorong USDCAD naik.
Terakhir, Risalah FOMC perlu mengonfirmasi bias hawkish para pembuat kebijakan The Fed yang mengisyaratkan penundaan pemangkasan suku bunga, agar minat beli Dolar AS kembali meningkat. Jika tidak, Dolar AS bisa tertekan dan harga emas berpeluang mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!